PEREMPUAN KELUAR RUMAH! BANGUN ORGANISASI dan GERAKAN PEREMPUAN LAWAN PATRIARKI dan KAPITALISME untuk KESETARAAN dan KESEJAHTERAAN

27 Mei 2010


Melawan Homophobia, Forum LGBTIQ Rayakan IDAHO


Mahardhika News, Jakarta – International Day Against Homophobia atau Hari Internasional Melawan Homopbhia yang jatuh pada tanggal 17 Mei 2010 dirayakan oleh Forum LGBTIQ dengan menggelar pameran foto LGBTIQ, pemutaran film LGBTIQ, dan diskusi “kebebasan berkumpul dan berekspresi” pada hari Senin (24/05) di Kantor Komnas HAM. Serangkaian kegiatan ini mengambil tema “Speaks Against The Silence” dihadiri oleh puluhan orang kaum LGBTIQ dan para pendukung yang banyak menyumbangkan karya berupa foto, pentas musik, pembacaan puisi, dan tari-tarian. Forum LGBTIQ adalah gabungan organisasi-organisasi yang memperjuangkan hak-hak kaum LGBTIQ. Mereka adalah Arus Pelangi, FKWI, Queer Community, Ardhanary Institue dan Perempuan Mahardhika.

Kegiatan ini merupakan suatu keberanian dari kaum LGBTIQ untuk melawan segala diskriminasi terhadap kaum LGBTIQ di Indonesia. Nasib kaum LGBTIQ di Indonesia senantiasa dalam ancaman dan represif terutama dari kelompok-kelompok fundamentalis yang mengatasnamakan agama. Masih segar dalam ingatan publik di mana Konferensi Regional ke-4 ILGA (International Lesbian, Gay, Bisexual, Trans and Intersex) di Surabaya pada bulan Maret dibubarkan oleh Forum Ulama Indonesia di depan mata aparat polisi. Juga Pelatihan HAM Waria diserang oleh kelompok Forum Pembela Islam (FPI) pada 30 April di Depok, tanpa ada perlindungan dari aparat kepolisian.

Padahal sejak tahun 1992, WHO telah menghapuskan homoseksualitas dari daftar klasifikasi internasional sebagai penyakit gangguan kejiwaan. Di dalam Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa ke-03 tahun 1993 yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia juga tidak lagi memasukkan LGBTIQ sebagai kelompok yang terganggu jiwanya. Sudah ada 50 negara yang mengakui IDAHO sebagai perayaan internasional, belum termasuk Indonesia.

Represifitas kepada kaum LGBTIQ menunjukkan bahwa pemerintah masih belum menjamin demokratisasi di Indonesia. Bahkan, seharusnya negara bertanggung jawab untuk mendidik masyarakat, agar adil dalam pikiran dengan menerima keberadaan kaum LGBTIQ tanpa diskriminasi. (rn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar