PEREMPUAN KELUAR RUMAH! BANGUN ORGANISASI dan GERAKAN PEREMPUAN LAWAN PATRIARKI dan KAPITALISME untuk KESETARAAN dan KESEJAHTERAAN

28 Mei 2011

Mayday Tahun Ini


Oleh: Zely Ariane*

“’Dan internasionale jayalah di dunia…’ Malam ini adalah malam renungan kita yang diimplementasikan lewat konfirmasi2 untuk kawan seperjuangan! Kepada seluruh kaum Marxis Indonesia, selamat merayakan hari buruh 1/5/2011. Semoga di hari yang fitri ini kita, lewat kampanye politik dan bagi-bagi selebaran selama ini dapat menghancurkan paham dan adat tua, mewujudkan rakyat yang sadar-sadar, memenangkan tuntutan-tuntutan rakyat tertindas di hari esok! Akhir kata Jayalah Sosialisme … (Nasir & Keluarga Besar UBK)”

Pesan singkat itu terasa heroik bak menyambut hari Idul Fitri bagi orang Islam. Kata-katanya pun menggebu laksana deruan beduk di malam takbiran. Pesannya tidak main-main: dengan aktivitas perjuangan yang sederhana (kampanye politik dan bagi-bagi selebaran) dapat menghancurkan paham-adat tua, sehingga rakyat sadar, dan tuntutan dimenangkan. Tujuannya pun mulia: untuk kejayaan Sosialisme.

Seruan Nasir memang berbeda dengan Peter McGuire dari pabrik Paterson New Jersey,  yang telah menginspirasi 20.000 buruh New York menyerukan 8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi  di tahun 1882. Mungkin karena Nasir sadar bahwa ketiga tuntutan Peter tersebut tak akan tercapai tanpa perjuangan untuk sosialisme.

Namun saat ini, buruh-buruh kita sedang menjauh dari cita-cita 8 jam kerja, 8 jam istirahat, dan 8 jam rekreasi, apalagi untuk sosialisme. Walau hal itu tak mengendurkan semangat Nasir, seorang mahasiswa itu, untuk tetap berani dengan lantang menyatakan sikapnya secara terbuka esok hari dalam rally Mayday ke Istana. Karena ia sadar, kapitalisme tak bisa memberi jam kerja lebih pendek, apalagi mimpi untuk rekreasi.


Di negara asal Peter Mcguire yang menjadi jantungnya kapitalisme, yaitu AS dan juga Eropa, jam kerja kini malah ditambah—bahkan usia pensiun pun diperpanjang! Katanya karena krisis, tuan-nyonya kapitalisnya tak punya uang cash lagi, sehingga harus lebih hebat lagi memeras keringat para buruh-buruhnya dan memotong lebih banyak upahnya. Tak cukup memeras di negara asalnya, tuan-nyonya kapitalis itu bekerja sama juga dengan tuan-nyonya kapitalis negara-negara miskin yang kaya bahan mentah dan buruh murah seperti kita, untuk semakin  besar lagi menghisap hasil kerja buruh-buruhnya. Disipilin pabriklah hasilnya.

Jam kerja lebih pendek—sehingga para penganggur bisa mengisi jam kerja selanjutnya—istirahat dan rekreasi yang cukup—agar bisa mengembangkan kreativitas seni dan budaya—hanya dapat dimenangkan oleh gerakan buruh di dalam satu sistem dan negara yang menempatkan semua buruh sebagai penentu produksi dan distribusi barang-barang dan jasa yang mereka hasilkan sendiri atau kemudian menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Dan sistem seperti itu cita-cita perjuangan sosialisme.

Refleksikan kemenangan untuk mengatasi kekalahan

Kaum buruh memang pernah berhasil memenangkan tuntutan 8 jam kerja sehari yang dipelopori buruh-buruh Amerika Serikat pada 1 Mei, 125 tahun yang lalu. Kaum buruh bersama-sama rakyat miskin lain bahkan pernah berhasil mendirikan sebuah negara buruh yang demokratis, yang mendorong pengelolaan pabrik tanpa pemilik modal, 94 tahun yang lalu di Rusia. Sebuah capaian perjuangan akbar yang tak sebentar dan memakan korban nyawa para pejuangnya.

Buruh Indonesia pun pernah tak kalah hebatnya. Buruh-buruh kereta api sudah berani melakukan perlawanan, lewat pemogokan, jauh sebelum Indonesia merdeka. Buruh-buruh Indonesia juga membangun serikat-serikat buruh yang tidak mau dikangkangi oleh tuan-nyonya kapitalis; melawan menuntut pengelolaan pabrik di tangannya sendiri di era 1950-an. 1 Mei pun juga menjadi ‘hari raya’ kaum buruh Indonesia.

Namun mereka mulai dikalahkan pada Oktober 1965. Dibunuhi dan dipenjarai para aktivis dan angota-anggotanya tanpa peradilan; dibubarkan organisasi-organisasinya oleh Soeharto-Orde Baru. Di atas darah itulah, SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia) didirikan untuk menjadi alas kaki pengusaha dan modal internasional.

Untunglah aktivis-aktivis buruh dan mahasiswa yang berani, bersama-sama mendobrak kedamaian palsu di bawah Orde Baru: mendirikan serikat buruh mandiri dan melawan penindasan politik Soeharto. Mereka berhasil! Soeharto tumbang, kebebasan organisasi dan ekspresi sementara didapat, dan SPSI pun mengalami perpecahan. 1 Mei kembali diperingati dengan heroik—bahkan SPSI pun sempat ikut-ikutan karena elit pimpinannya tak sanggup menahan gejolak massa anggota yang mendukung mayday.  

Namun itu semua tak sempat  berlangsung lama. Serangan balik kapitalisme internasional dan nasional, beserta pemerintahan pendukungnya, berkali-kali lebih cepat ketimbang konsolidasi kekuatan perlawanan. Pengesahan UU Ketenagakerjaan tahun 2003 adalah kemenangan musuh sekaligus reorganisasi kekuatan tuan-nyonya modal asing dan dalam negeri yang paling sukses.

Pada titik itu pulalah buruh-buruh Indonesia dan pergerakannya terpaksa mulai mengambil taktik bertahan. Bertahan dari gempuran sistem kerja yang mulai tak tetap, PHK seenak udel-nya pengusaha, jam kerja lebih lama untuk kejar target maupun menambah sepeser dua peser upah yang terus menurun nominalnya dari kebutuhan hidup layak sejak tahun 1998. Tak cukup itu, gempuran terhadap kebebasan berserikat pun ditingkatkan, dilengkapi dengan kriminalisasi terhadap para aktivis dan pimpinan-pimpinan serikat buruh yang berani.

Perjuangan normatif tingkat pabrik pun tak cukup  lagi lewat perundingan, namun menghendaki militansi dan solidaritas dari luar pabrik yang berkali-kali lipat dari sebelumnya. Ruang gerakan perlawanan buruh mulai semakin sempit, di dalam kondisi kerja yang semakin sulit. Apalagi bagi buruh-buruh industri terbelakang seperti garmen, tekstil dan pengolahan makanan (mayoritas perempuan!), yang perjuangannya lebih berat di dalam ancaman PHK setiap saat.

Kita tak boleh menipu diri. Dalam kondisi kalah seperti ini lah perjuangan buruh kita saat ini. Walau kemenangan-kemenangan perjuangan di masa lalu adalah bara yang tak pernah mati, yang menghendaki para pemandai api untuk mengobarkannya kembali di masa kini.

Melawan disiplin pabrik, kunci kebangkitan

Kenaikan upah, kebebasan serikat dan sistem kerja lebih manusiawi (jaminan kerja permanen dengan jam kerja lebih pendek) adalah tuntutan mendesak buruh kita saat ini. Jaminan kesehatan, pendidikan tanpa dipotong upah, dan jaminan pensiun pun termasuk kebutuhan mendesaknya. Namun, syarat agar perjuangan tersebut dapat berkelanjutan dan meluas membutuhkan perlawanan yang berani terhadap disiplin pabrik.

Perlawanan yang berani ini menuntut pengorbanan dan penyadaran, seperti: rela tidak lembur demi rapat dan aksi-aksi perjuangan, menuntut upah lembur yang tak dibayar, aksi-aksi dukungan solidaritas antar pabrik, pertemuan-pertemuan & pendidikan rutin pabrik, ajang-ajang kreativitas penyadaran di depan pabrik dan kawasan indistri yang rutin (teaterikal, nonton film, buat graffiti atau mural dll) dst dst yang kesemua itu bertujuan untuk menularkan keberanian kepada mayoritas buruh yang belum berani melawan.

Heroisme dan keberanian para pimpinan buruh FBLP KBN Cakung ketika memulai dan memimpin pemogokan KBN 3 Desember 2010; dan militansi kawan-kawan Garda Metal SPMI Bekasi yang bersolidaritas untuk kawan-kawannya yang mogok berbulan-bulan di PT. Kanefusa; atau kader-kader SBTPI dari berbagai pangkalan yang bersolidaritas terhadap pemogokan pangkalan lainnya, adalah contoh-contoh kecil dalam mendobrak disipilin pabrik yang jahat tersebut. Hasilnya belum tentu semua berbuah kemenangan, namun tanpa perlawanan, sudah pasti kekalahan yang didapatkan. Merekalah para pemandai api yang berani dan tak menyerah berupaya terus mengobarkan bara menjadi api. Merekalah, bersama elemen-elemen buruh yang melakukan perjuangan serupa, akan menjadi juru kunci kebangkitan pergerakan buruh di masa yang akan datang.

Persatuan dan solidaritas, syarat perluasan dan kemenangan

Bila mau menjadi tuan bagi dirinya sendiri, para pemandai api pergerakan buruh di FBLP Cakung, SPMI Bekasi, dan SBTPI Tanjung Priuk, bersama-sama yang lainnya, harus mulai bersatu dan saling bersolidaritas. Karena di dalam kunci disiplin pabrik yang demikian, tanpa persatuan dan solidaritas, perjuangan akan sulit berumur panjang.

Namun ada persoalan. Persatuan itu membutuhkan program-program dan pengalaman juang bersama. Untuk Mayday kali ini, FBLP Cakung dan SBTPI, sayangnya, tidak berada dalam barisan persatuan yang sama dengan SPMI Bekasi. Mereka tak menyatu karena perbedaan isu. SPMI Bekasi bergabung bersama Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS) menuntut disahkannya UU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Sementara FBLP dan SBTPI bergabung bersama Persatuan Perlawanan Rakyat Indonesia (PRRI) yang menuntut kenaikan upah, penghapusan sistem kerja kontrak dan pemberangusan serikat.

Tentu SPMI Bekasi akan bersetuju dengan tuntutan-tuntutan PRRI tersebut, demikian halnya FBLP dan SBTPI yang akan bersetuju bahwa buruh dan rakyat miskin membutuhkan jaminan sosial. Seakan-akan tampak tak ada soal, tapi ketika dibongkar lebih dalam, akan terlihat, bahwa dalam mengampanyekan  tuntutan-tuntutan buruh tersebut, PPRI memberikan penyadaran dan mengajak buruh dan rakyat untuk melawan sistem kapitalisme penyebab kesengsaraan ini. Sementara KAJS, entah dengan sadar atau tidak, cenderung beradaptasi dengan kehendak pemerintah dan DPR bahwa untuk mendapatkan jaminan sosial, khususnya kesehatan, buruh harus bayar iuran atau dipotong upahnya. Yang artinya, bahwa untuk sehat memang buruh harus bekerja lebih rajin karena kesehatan memang harus bayar.

Apakah kemudian artinya PRRI adalah barisan pro sosialisme dan KAJS barisan sosial demokrasi? Sebentar dulu, jangan cepat-cepat berkesimpulan. Masing-masing massa buruh yang mendukung perjuangan ini mayoritas tidak tahu apa itu sosial demokrasi, anti kapitalisme atau sosialisme. Mayoritas mereka yang terlibat disini berjuang untuk kehidupan buruh yang lebih baik. Mayoritas mereka belum mengerti bahwa untuk mencapainya, mereka akan dihadapkan pada beragam pilihan isu dan taktik perjuangan yang akan berdampak besar pada masa depan mereka.

Mayoritas buruh Indonesia masih belum berserikat (dari 30 juta-an hanya 5 juta-an yang berserikat), dan yang berserikat pun mayoritas masih di dalam SPSI. Sementara yang berserikat di luar SPSI pun masih banyak yang masih berkesadaran SPSI: bahwa pengusaha dan buruh adalah mitra. Di dalam situasi itu, organisasi-organisasi buruh radikal (yang sadar bahwa pengusaha-buruh bukanlah mitra melainkan penindas dan yang ditindas) adalah minoritas di tengah lautan buruh yang reformis (yang percaya bahwa dialog harmonis buruh-pengusaha bisa memberi jalan kesejahteraan buruh) bahkan konservatif (buruh yang justru membela hak-hak penguasaha).

Untuk itu, adalah tantangan bagi organisasi buruh yang menyatakan dirinya radikal di dalam PPRI, seperti PPBI yang menjadi afiliasi FBLP, serta SBTPI, untuk masuk dan mempengaruhi fragmen buruh-buruh yang reformis dan sekarang sedang bergerak, dengan isu yang mungkin menurut PRRI kurang radikal atau bahkan salah (!). Apalagi massa buruh yang mendukung KAJS mayoritas berasal dari dari latar belakang industri yang lebih maju dan pendidikan yang lebih tinggi, sehingga memiliki landasan lebih besar untuk penerimaan kesadaran radikal-sosialis.

Tanpa dapat mempengaruhi fragmen luas ini, tuntutan-tuntutan radikal buruh tidak akan mendapatkan kemenangan. Karena mengorganisir fragmen buruh yang belum melawan dan tak berorganisasi adalah pekerjaan yang jauh lebih sulit.

Entah bagaimana cara yang paling tepat, dan entah bagaimana memulainya. Yang pasti rasanya tak elok kita menyatakan diri kita paling benar dan paling radikal jika kita belum sanggup mempengharuhi fragmen perlawanan yang lebih besar dan militan. Pada akhirnya kebenaran dari radikalisme kita membutuhkan konfirmasi dan dukungan massa di luar kita. Ia bukan deklarasi pada saat Mayday saja, yang mungkin diberitakan atau tak diberitakan oleh berbagai media pendukung modal.

Selamat Mayday 2011, mari terus belajar, berpolemik, berdebat untuk penajaman perjuangan kita!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar