PEREMPUAN KELUAR RUMAH! BANGUN ORGANISASI dan GERAKAN PEREMPUAN LAWAN PATRIARKI dan KAPITALISME untuk KESETARAAN dan KESEJAHTERAAN
Tampilkan postingan dengan label Mahardhika Progress. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahardhika Progress. Tampilkan semua postingan

27 Mei 2011

Pameran Karya "PEREMPUAN DILARANG BICARA"



Perempuan adalah sosok yang sampai saat ini masih selalu dinomorduakan. Bahwa perempuan harus selalu menurut kepada laki-laki, Perempuan adalah kaum yang lemah dan anggapan-anggapan lainnya yang selalu ada dalam kehidupan masyarakat saat ini adalah salah dan sangat membuat harkat dan martabat perempuan semakin jauh dari kesetaraan, karena itulah kebudayaan yang dinamakan patriarki. Akhirnya pola pikir itulah yang sampai saat ini membuat perempuan menjadi semakin sulit untuk berposisi dan beraspirasi serta semakin terkungkung dalam kebudayaan yang tidak adil dan setara bagi perempuan itu sendiri.


Selain budaya patriarki, perempuan juga masih mendapatkan dirinya dalam penindasan yang bertambah. Sistem negara yang kapitalistik membuat perempuan tereksploitasi. Keterbelakangan pendidikan dan buta huruf (tercatat di BSN, mayoritas adalah perempuan) membuat perempuan di dunia kerja, dihargai murah oleh pengusaha. Kodrat menstruasi, menyusui dan melahirkan dijadikan alasan kuat untuk memPHK perempuan seenaknya. Akhirnya korban kemiskinan dan pengangguran terbanyak adalah perempuan, yang berujung sebagian perempuan mentaktisi hidupnya yang melarat dengan menjadi PSK. Di Indonesia sendiri, diperkirakan jumlah Perempuan pengidap HIV/AIDS mencapai 21% dari 5.701 kasus yang dilaporkan. Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo juga melaporkan bahwa ingga desember 2004, pengidap HIV/AIDS FKUI?RSCM mencapai 635 kasus, dan 82 diantaranya (12,9%) adalah perempuan dengan rentang usia 15-53 tahun dan 79,8% dari mereka telah meniikah. Angka kematian Ibu di Indonesia pun bertambah sebesara 228 per 100.000 kelahiran hidup, berdasarkan SDKI survei terakhir tahun 2007, meskipun demikian angka itu masih tertinggi di Asia.

Peran pemerintah dalam mengatasi kriminalisasi, penindasan sistem (kemiskinan, pengangguran, buta huruf dan kesehatan) terhadap perempuan sangat minim. Dalam sistem yang memuja modal (Kapitalisme) dan diperkuat dengan budaya patriarki ini membuat perempuan tidak bisa mendapatkan kesejahteraannya. Sejarah mencatat, perjuangan kartini untuk membebaskan perempuan untuk bisa belajar dan sejajar dengan laki-laki kini terhambat oleh sistem yang menindas ini. bahkan perjuangan GERWANI yang sampai mencapai kemenangan dengan perempuan terlibat dalam perjuangan pembebasannya, kini terbungkam setelah diberangus oleh kekuasaan orde baru. Perempuan kembali di pingit dalam domestifikasi. Kondisi perempuan yang tragis saat ini hanya akan bisa terbebas kecuali ketika perempuan kembali dilibatkan dan terlibat dalam perjuangannya. Dimulai dari perbanyak diskusi dan ajang-ajang penyadaran tentang persoalan perempuan dan hambatan-hambatannya, terutama dengan sasaran Kaum Muda Perempuan.

Untuk itu Perempuan Mahardhika, salah satu organisasi perempuan yang mandiri berangkat dari ini, terus konsisten membuat program-program dan ajang-ajang untuk perjuangan pembebasan perempuan. Di kesempatan ini, Perempuan Mahardhika menggelar Event yang berangkat dari realitas perempuan saat ini dengan melibatkan kaum muda perempuan untuk mengekspresikan realitas Perempuan dan perjuangannya dalam kreativitas karya-karyanya. Event ini bertemakan “Perempuan Dilarang Bicara” sebagai salah satu kritik terhadap sistem dan budaya yang masih mendiskriminasi perempuan. adapun event ini adalah rangkaian dari Program “Sekolah Feminis Untuk Kaum Muda”.

Kara-karya yang akan di tampilkan :
1. Pameran Kaya Lukis
2. Pameran foto
3. Pameran poster
4. Panggung Musik
5. Panggung tari
6. Panggung Teater
7. Panggung Ketoprak
8. Film
9. Diskusi Publik, "Perempuan dalam Media"




RUNDOWN ACARA DALAM PAMERAN KARYA PEREMPUAN MAHARDHIKA
Gelanggang Mahasiswa UGM, 28-29 Mei 2011

22 Mei 2011

Reformasi Tidak Bisa Mengganti Rezim Kapitalis-Militeristik


Oleh : Zely Ariane (Anggota KPRM-PRD; Aktivis Perempuan Mahardhika)

"13 tahun lalu Soeharto memang harus ditumbangkan.
Keputusan tersebut adalah langkah brilian dari satu generasi….”
[Nurul Khawari, pelaku penggulingan Soeharto-Orde Baru Mei 1998, Solo Pos, 5 Mei 2011]

Demokrasi adalah ibu kesejahteraan, keadilan, kesetaraan, kebudayaan dan semua bentuk kreativitasnya, yang bermanfaat bagi masa depan kemanusiaan. Bukan untuk demokrasi rakyat jatuhkan Soeharto di tahun 1998, melainkan untuk keadilan dan kesejahteraan. Bukan untuk reformasi mahasiswa dan rakyat menduduki gedung MPR, melainkan untuk Indonesia yang bebas dari todongan senjata dan mata-mata tentara, bersih dari korupsi dan nepotisme, sejahtera karena bahan-bahan pokok dapat terjangkau. Demokrasi adalah alatnya; demokrasi adalah caranya, untuk mencapai tujuan pembebasan manusia dari penindasan manusia lainnya. Tanpa demokrasi, kemanusiaan menjadi hitam-putih tak berwarna, kesejahteraan menjadi komoditas milik penguasa.

Gerakan reformasi mahasiswa dan rakyat telah berhasil menjatuhkan diktator, memperluas partisipasi politik rakyat langsung lewat sistem multipartai, kebebasan pers, kebebasan berorganisasi dan yang terpenting, telah berhasil mengembalikan senjata politik rakyat yang paling ampuh yaitu aksi massa. Namun, gerakan tersebut belum sanggup menjatuhkan sebuah rezim kapitalis militeristik dan menggantikannya dengan yang lebih demokratik dan kerakyatan. Gerakan tersebut juga gagal berkonsolidasi lebih lanjut dan mendorong demokrasi lebih maju lagi. Gerakan kalah di dalam dua pertarungan besar: kalah melawan tentara-militerisme dan Golkar serta kalah melawan hegemoni kekuatan anti demokrasi.

Demokrasi kini dikanalisasi ke dalam insitutusi-institusi yang secara sepihak dinyatakan sebagai perwakilan kehendak rakyat, dipersulit oleh birokrasi dan permainan uang, dikunci oleh kepentingan pemodal, status quo dan kontrol senjata serta penjara. Sejak saat itulah demokrasi bukan lagi wujud kehendak rakyat, melainkan kehendak segelintir elit untuk mempertahankan kepentingan dan kekuasaannya.

Ketika aksi massa mengubah aturan main

11 Januari 2011

Apa itu Sekolah Feminis untuk Kaum Muda?

Sekolah Feminis untuk Kaum Muda merupakan salah satu program penyadaran berperspektif gender yang telah menjadi brand Perempuan Mahardhika secara Nasional. program ini telah kami jalankan selama 2 periode di Yogyakarta dengan penyempurnaan yang semakin kreatif untuk mampu menjangkau kaum muda sebagai tenaga penggerak perubahan masyarakat. Memasuki tahun ketiga, kami semakin memiliki kepercayaan diri untuk meluaskan kampanye pembebasan perempuan, sehingga jangkauan kota sasaran pun kami lebarkan, meliputi Yogyakarta, Ternate dan Makassar.

Apa keistimewaan Sekolah Feminis untuk Kaum Muda periode III ?
Selain akan meluaskan pelaksanaan sekolah ketiga kota sasaran di Indonesia, keistimewaan Sekolah Feminis untuk Kaum Muda periode III adalah metode belajar kelas yang menarik, kreatif, youthfriendly dan pastinya seru banget. Peserta juga akan dibekali dengan keterampilan khusus dalam tahapan outclass agar kaum muda yang terlibat dalam Sekolah ini mempunyai kemampuan untuk mengaplikasikan ilmunya dalam bentuk kreasi alat propaganda bagi pembebasan perempuan.
Bosan dengan teori mlulu? Di Sekolah Feminis untuk Kaum Muda, kamu tidak hanya diajak untuk mengenal teori di dalam kelas, namun juga akan membekalimu dengan kemampuan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah kamu dapatkan dalam bentuk kreasi alat propaganda bagi pembebasan perempuan. Hebatnya lagi, setelah pelaksanaan kelas dan outclass, kamu akan diberi kesempatan untuk bersantai dan bermain dnegan peserta yang lain di sesi Outbound. Seru kan?

30 Agustus 2010

PELAKSANAAN KONVENSI CEDAW DAN PEMBEBASAN PEREMPUAN


Oleh : Linda Sudiono

Tanggal 24 Juli 2010 lalu tepat 26 tahun Indonesia meratifikasi Konvensi CEDAW dalam bentuk Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Penghapusan Diskriminasi Terhadap Perempuan. Harapan akan terciptanya tatanan masyarakat yang adil dan berkesetaraan mewarnai pemberlakuan aturan tersebut. Namun, Apakah Konvensi Cedaw telah mampu mengembalikan hak Perempuan yang sudah ribuan tahun terampas? Dan bagaimana implementasi konvensi ini dalam kultur sosial Indonesia?

22 Agustus 2010

Bangun Organisasi dan Kompartemen Perempuan Mandiri, Wujudkan Cita-Cita Pembebasan Perempuan

Oleh:
Linda Sudiono

Pengorganisiran dan gerakan perempuan gelombang pertama dan kedua membawa keberhasilan yang cukup signifikan bagi perubahan kondisi sosio kultural perempuan. Perempuan yang pada awalnya masih terkungkung kondisi pingitan dalam ranah domestik, saat ini sudah relatif mampu menikmati keindahan dan keanggungan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang terus mengalami dialektika dari setiap fase perkembangan sejarah. Namun apakah benar bahwa agenda emansipasi perempuan telah berhasil dan menemui titik jenuhnya? Apakah benar bahwa perempuan telah memperoleh kesetaraannnya ketika dia mampu bersaing dengan laki-laki? Perlu analisa lebih lanjut untuk menjawab pertanyaan kompleks yang timbul dari persoalan itu.

21 Agustus 2010

Skenario Dibalik Kenaikan Harga Kebutuhan Dasar Rakyat

oleh:
Linda Sudiono

Kapitalisme telah gagal. Sepanjang perjalanan sejarah, sistem yang menganalisa proses produksi berdasarkan logika modal ini tidak mampu melepaskan diri dari krisis yang terus menggerogoti. Teori-teori baru terus dilahirkan untuk menemukan metode terbaik bagi kelangsungan hidup sistem kelas ini. Mulai dari teori liberalisme ala Adam Smith yang menjadi teori utama sistem kapitalisme di Amerika Serikat dan Inggris sekaligus menghantarkan dunia global pada great depression tahun 1930 , digantikan dengan teori Keynessian oleh John Maynard Keynes yang penyesuaian prakteknya ditolak oleh para elit serta perusahaan yang merasa dirugikan dengan program pemberdayaan masyarakat . Kegagalan demi kegagalan yang dialami sistem ini memotivasi para ekonom borjuis untuk menemukan jalan keluar yang paling efektif bagi sistem perekonomian global. Bermula dari frederick Von Hayek dan Milton friedman—filsuf ekonom universitas Chicacago—ekonomi liberal dihidupkan kembali dengan terminologi baru, yaitu ideologi Neoliberalisme.

26 Juni 2010


Perempuan Mahardhika Makassar


Selamat atas pelaksanaan Konferensi Kota Perempuan Mahardhika Makassar dan terpilihnya struktur baru sebagai berikut:
1. Ketua : Vita
2. Sekretaris : Rahma
3. Departemen Sekolah Feminis : Wahyu dan Sony
4. Departemen produksi Bcaan dan Propaganda : Nur, iccank, Anggi dan Arni
5. Departemen Penyatuan Sektor dan Kaum Muda Perempuan : Mirna, Dani dan Dani
6. Departemen Dana : Sahara dan Rini
7. Penanggungjawab Mahardhika Pembebasan : Nur
Terimakasih kepada kawan-kawan dari Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (PEMBEBASAN) Makassar yang telah mensukseskan pelaksanaan konferensi kota Perempuan Mahardhika Makassar sekaligus mewujudkan komitmen dalam membangun gerakan rakyat yang feminis dan berkesetaraan dengan pembentukkan Mahardhika Pembebasan Makassar yang berintegrasi dengan Perempuan Mahardhika. (contact person --> Rahma : 087841938138)

Perempuan Keluar Rumah!
Bangun Organisasi dan Pergerakan Perempuan
Lawan Kapitalisme, Berjuang untuk Kesejahteraan dan Kesetaraan
Ganti Pemerintahan Kapitalis SBY-Boediono; Tinggalkan Elit-elit Politik Busuk,
Bersatu, Bentuk Pemerintahan Persatuan Rakyat Miskin